Sesaji Rewanda Semarang: Makna Kirab dan Tradisi Memberi Makan Kera

Sesaji Rewanda Semarang merupakan tradisi warga Talun Kacang, Kandri, Gunungpati, yang menghubungkan ungkapan syukur masyarakat dengan kera penghuni Goa Kreo. Melalui kirab gunungan dan pemberian makanan, warga menjalankan ritual yang dimaknai sebagai rasa syukur kepada Tuhan atas keselamatan, berkah, dan rezeki. Tradisi ini juga menyertakan cerita tentang Sunan Kalijaga yang perlu dipahami sebagai legenda, bukan peristiwa sejarah yang telah terverifikasi.

Untuk memahami Sesaji Rewanda, perhatian tidak cukup diarahkan pada kemeriahan arak-arakan. Gunungan, keterlibatan masyarakat, dan pembagian makanan merupakan bagian penting dari prosesi. Liputan pelaksanaan pada 28 Maret 2026 memberikan contoh bagaimana unsur-unsur tersebut hadir dalam kegiatan warga, sekaligus membantu membedakan praktik ritual yang terdokumentasi dari cerita yang menyertainya.

Ungkapan Syukur Warga Talun Kacang

Portal Pariwisata Provinsi Jawa Tengah menyebut masyarakat Talun Kacang, Kandri, Gunungpati, sebagai pelaksana Sesaji Rewanda. Makna yang dijelaskan adalah rasa syukur kepada Tuhan atas keselamatan, berkah, dan rezeki. Pemberian makanan kepada kera ekor panjang penghuni Goa Kreo menjadi bagian dari ungkapan tersebut.

Dengan demikian, hubungan antara warga dan kera dalam ritual ini berada dalam konteks budaya masyarakat. Sajian yang dibawa menuju kawasan gua merupakan bagian dari pelaksanaan tradisi syukur. Penjelasan ini menjadi pegangan untuk memahami prosesi tanpa menambahkan makna yang belum didukung sumber.

Dalam liputan 28 Maret 2026, Ketua Pengelola Desa Wisata Kandri, Saiful Ansori, juga menjelaskan makna syukur dan pelestarian budaya. Keterangan tersebut memperlihatkan bahwa pelaksanaan Sesaji Rewanda berkaitan dengan upaya masyarakat mempertahankan tradisinya.

Gunungan sebagai Sajian dalam Prosesi

Dokumen Jawa Tengah Calendar of Events 2023 menjelaskan bahwa prosesi Sesaji Rewanda diawali dengan mengarak gunungan hasil bumi menuju Goa Kreo. Gunungan menjadi bentuk sajian yang dibawa dalam kirab, kemudian berkaitan dengan pemberian dan pembagian makanan setelah prosesi.

Pada pelaksanaan yang diliput 28 Maret 2026, gunungan memuat buah-buahan, polo pendem, ketupat, tumpeng, dan sego kethek. Daftar tersebut menunjukkan makanan yang hadir pada pelaksanaan itu. Namun, dokumentasi satu acara tidak dapat dijadikan dasar untuk menetapkan susunan sajian yang wajib sama setiap tahun.

Makna gunungan dalam artikel ini dibatasi pada fungsi yang terdokumentasi: membawa hasil bumi dan makanan sebagai bagian dari ritual. Sumber yang tersedia belum menjelaskan filosofi khusus bentuk gunungan maupun setiap bahan makanan. Karena itu, tafsir simbolik tentang unsur-unsur tersebut tidak dapat dipastikan.

Kirab Masyarakat pada Pelaksanaan 2026

Liputan langsung 28 Maret 2026 mendokumentasikan arak-arakan gunungan dan replika kayu jati menuju Goa Kreo. Peserta berkostum kera turut hadir dalam kirab tersebut. Unsur-unsur ini memberikan gambaran konkret tentang bentuk prosesi yang melibatkan masyarakat.

Kehadiran replika kayu jati dapat dibaca bersama cerita tradisi yang mengaitkan Goa Kreo dengan perjalanan Sunan Kalijaga mencari kayu untuk Masjid Agung Demak. Meski demikian, replika dalam kirab bukan bukti bahwa peristiwa dalam legenda benar-benar berlangsung sebagaimana diceritakan.

Pelaksanaan 2026 merupakan contoh aktual, bukan aturan baku bagi seluruh penyelenggaraan. Jumlah gunungan, susunan sajian, maupun rincian peserta yang tercatat dalam liputan perlu tetap ditempatkan sebagai dokumentasi acara tersebut.

Pembagian Makanan untuk Kera dan Masyarakat

Hubungan ritual dengan kera Goa Kreo terlihat jelas pada pembagian makanan. Setelah prosesi pada pelaksanaan 2026, tiga gunungan buah diberikan kepada kera. Sementara itu, gunungan lainnya diperebutkan oleh masyarakat dan pengunjung.

Pembagian tersebut memperlihatkan bahwa sajian dalam kirab memiliki tujuan yang berbeda pada acara itu. Ada makanan yang diberikan kepada kera, dan ada gunungan yang menjadi bagian dari keterlibatan warga serta pengunjung setelah prosesi.

Pemberian makanan ini perlu dipahami dalam konteks ritual yang didokumentasikan. Keberadaannya tidak membuktikan manfaat konservasi secara ilmiah dan tidak menjadi dasar untuk menganjurkan pengunjung memberi makan kera secara bebas.

Legenda Sunan Kalijaga yang Menyertai Tradisi

Menurut cerita tradisi yang menyertai Goa Kreo, kera dikisahkan membantu Sunan Kalijaga mencari kayu jati untuk pembangunan Masjid Agung Demak. Portal pariwisata resmi juga memuat cerita bahwa Sunan Kalijaga meminta kera tinggal atau menjaga kawasan gua.

Kaitan dengan pembangunan masjid turut muncul dalam kalender acara resmi 2023. Dokumen itu menjelaskan Mahakarya Legenda Goa Kreo sebagai sendratari tentang perjalanan Sunan Kalijaga mencari saka guru Masjid Agung Demak.

Cerita tersebut membantu pembaca memahami hubungan antara kayu jati, kera, dan Goa Kreo dalam tradisi. Namun, penyajiannya harus tetap menggunakan penanda seperti menurut legenda atau menurut cerita tradisi, agar kisah budaya tidak berubah menjadi klaim sejarah.

Membedakan Dokumentasi Tradisi dan Bukti Sejarah

Portal pariwisata, kalender acara, dan reportase lapangan mendokumentasikan keberadaan serta pelaksanaan Sesaji Rewanda. Ketiganya dapat digunakan untuk menjelaskan pelaku, makna syukur, bentuk kirab, dan pembagian makanan.

Namun, bahan tersebut belum memberikan bukti sejarah tentang peristiwa bantuan kera kepada Sunan Kalijaga atau tahun awal ritual. Karena itu, tradisi ini tidak dapat dinyatakan telah berlangsung sejak abad ke-15 berdasarkan sumber yang tersedia. Nilai budayanya dapat dijelaskan tanpa menetapkan usia yang belum terverifikasi.

Waktu Ritual Warga dan Jadwal Acara Umum

Portal pariwisata menyebut tanggal 3 Syawal untuk Sesaji Rewanda. Dalam liputan 2026, Saiful Ansori membedakan ritual warga RW 3 pada H+3 Lebaran dari acara untuk umum yang mengikuti jadwal pemerintah kota. Keterangan tersebut tidak boleh otomatis dianggap sebagai satu tanggal penyelenggaraan yang sama.

Kalender 2023 berguna untuk memahami bentuk prosesi, sedangkan reportase 2026 memberikan contoh pelaksanaan aktual. Jadwal tahun berikutnya tetap memerlukan pengumuman resmi baru. Melalui keterlibatan masyarakat, Sesaji Rewanda terus menjadi ruang pelestarian tradisi syukur, dengan legenda Goa Kreo sebagai cerita budaya yang menyertainya.