Nyadran Kali Kandri Semarang

Nyadran Kali Kandri: Mengenal Kirab Air dari Sendang Kidul ke Sendang Gede

Nyadran Kali Kandri Semarang merupakan tradisi masyarakat Kandri, Gunungpati, yang menghubungkan kirab budaya dengan rasa syukur atas sumber mata air. Salah satu rangkaian utamanya adalah membawa air dari Sendang Kidul menuju Sendang Gede, kemudian melaksanakan ritual hingga penuangan air ke arah persawahan. Bawaan kirab, makan bersama, dan pembagian hasil bumi turut memperlihatkan hubungan warga dengan sumber air yang menopang kehidupan mereka.

Persiapan air dan kirab menuju Sendang Gede

Deskripsi atraksi di Jadesta menyebut rangkaian dimulai dengan pengumpulan air dari tujuh sumber. Air tersebut disemayamkan selama semalam di rumah palereman sebelum dibawa dalam kirab dari Sendang Kidul menuju Sendang Gede.

Rute ini juga tercatat dalam liputan Januari 2024, yang menyebut titik keberangkatan sebagai Sendang Kali Kidul. Dengan demikian, perjalanan antarsendang menjadi bagian utama prosesi, bukan sekadar arak-arakan membawa hasil bumi.

Bawaan kirab dan perannya dalam prosesi

Menurut deskripsi Jadesta, bawaan prosesi mencakup kepala kerbau, gong, jadah, gunungan, nasi bakul, dan daun pisang. Benda serta makanan tersebut hadir dalam rangkaian ritual dan kegiatan bersama warga.

Liputan Januari 2024 mencatat gong dibunyikan pada awal nyadran. Sementara itu, penjelasan Masduki dalam liputan Desember 2024 memaknai jadah sebagai perekat warga. Makna ini melengkapi peran jadah sebagai makanan yang dibagikan dalam rangkaian tradisi.

Ritual di Sendang Gede hingga penuangan air

Setelah kirab tiba di Sendang Gede, rangkaian berlanjut dengan tarian, penyerahan perlengkapan ritual, doa, dan penuangan air. Deskripsi Jadesta menempatkan tarian sebelum serah terima kepada juru kunci, lalu menyebut air disiramkan ke sawah.

Liputan Januari 2024 memberikan rincian berbeda pada bagian penyerahan: gayung diserahkan sebelum tarian. Liputan tersebut juga mencatat penambahan air Sendang Gede sebelum doa dan penuangan. Karena urutan penyerahan yang dicatat kedua sumber berbeda, rincian itu perlu dipahami sesuai dokumentasi masing-masing.

Penuangan air ke arah persawahan juga terlihat dalam dokumentasi Antara Foto pada 7 Desember 2025. Foto tersebut memperlihatkan peserta menuangkan air kembang; keterangannya mengaitkan Nyadran Kali dengan rasa syukur atas sumber mata air serta pengenalan budaya kepada generasi muda.

Makan bersama dan pembagian hasil kirab

Pembagian hasil kirab paling jelas tergambar melalui makanan dan gunungan. Liputan Januari 2024 menyebut jadah dibagikan, lalu warga makan bersama dengan alas daun pisang. Setelah makan bersama, rangkaian dilanjutkan dengan rebutan gunungan berisi hasil bumi dan jajanan pasar.

Dalam liputan pelaksanaan Januari 2020, makanan yang disajikan untuk makan bersama disebut nasi kethek, juga ditempatkan di atas daun pisang. Keterangan ini memberi gambaran konkret tentang bagian kebersamaan setelah ritual sendang.

Perlakuan terhadap kepala hewan memiliki catatan berbeda antarperiode. Liputan Januari 2020 memuat penjelasan Masduki tentang perubahan dari mengubur kepala kerbau dahulu menjadi memasaknya pada periode tersebut. Adapun liputan Januari 2024 menyebut kepala sapi yang akan dimasak. Karena itu, jenis kepala hewan dan cara penanganannya tidak dapat disamaratakan untuk setiap pelaksanaan.

Hubungan Nyadran Kali dengan pemeliharaan sumber air

Hubungan masyarakat Kandri dengan sendang tidak berhenti pada pelaksanaan kirab. Publikasi penelitian UNNES pada 2023 mencatat pemanfaatan air sendang untuk kebutuhan rumah tangga, pertanian, perkebunan, dan perikanan. Sumber air tersebut memiliki fungsi langsung dalam kehidupan warga.

Penelitian yang dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi warga itu mencatat pembersihan sumber, doa, pembuatan gunungan, serta keterlibatan masyarakat luar Kandri. Praktik pemeliharaan yang dibahas mencakup perlindungan pohon, larangan membuang sampah, dan pencegahan pencemaran sabun.

Dalam konteks ini, kirab air, doa, dan makan bersama menjadi bagian dari tradisi yang mempertemukan rasa syukur dengan kepedulian terhadap sendang. Memahami Nyadran Kali berarti melihat rangkaian ritualnya sekaligus hubungan sehari-hari masyarakat dengan sumber air.